Tetap Tegak Lurus Menapaki Pilar-Pilar Keaswajaan

Tetap Tegak Lurus Menapaki Pilar-Pilar Keaswajaan
Senin(11/09), pesantren mahasiswa al-Iqbal dan pesantren mahasiswi al-Inayah melaksanakan kegiatan kajian keaswajaan yang kedua. Kajian tersebut masih dengan ustadz yang sama yakni ustadz Nur Hadi, jadi pembahasan saat kajian melanjutkan apa yang disampaikan saat kajian pertama. Saat kajian pertama para santri diajak mengingat kembali tentang sejarah aswaja dan pengertian aswaja maka kajian kedua ini berlanjut ke prinsip-prinsip aswaja, sikap aswaja kepada golongan lain, dan sikap aswaja terhadap hal baru.
Sebelum ke materi inti, ustadz Nur Hadi sedikit mereview apa yang telah disampaikan sebelumnya terutama terkait dengan arti kata al-Jamaah. Al-Jamaah memiliki empat arti yakni aliran al-jamaah, golongan yang mengikuti ijma’ para ulama’, kebersamaan atau kolektifitas, dan mayoritas kaum muslimin. Keempat pengertian tersebut diambil dari hadits-hadits yang perawinya tidak dloif dan dari kitab-kitab ulama’ aswaja jadi sudah tidak diragukan lagi keshahihannya.
Pembahasan berlanjut ke pokok bahasan pertama yakni prinsip dasar aswaja. Dalam aswaja terdapat tiga prinsip dasar yaitu tawassuth, tasamuh, dan tawazun wal i’tidal. Tawassuth berarti sikap tengah-tengah atau moderat yang perwujudannya adalah sikap menghindari keekstriman baik ekstrim kiri maupun ekstrim kanan. Tasamuh adalah toleran atau dalam bahasa dikenal dengan istilah tepo seliro. Perwujudan prinsip tasamuh ini merupakan munculnya sikap tenggang rasa yang dicontohkan oleh ustadz Nur Hadi dengan kisah Imam Syafi’i ketika menjadi imam shalat shubuh yang makmumnya terdapat orang yang beda keyakinannya (Imam Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah) maka Imam Syafi’i bertenggang rasa dengan tanpa melakukan qunut untuk menghormati keyakinan demi menjaga tetap kokohnya ukhuwah islamiyah. Namun ada batasan dalam tenggang rasa, tenggang rasa dilarang jika berkaitan dengan ushuliyah. Tawazun wal i’tidal memiliki arti tegak lurus dan seimbang. Dalam perwujudannya tegak lurus dan seimbang berarti proporsional dalam memilih sistem bermadzhab.
Setelah mengerti prinsip dan perwujudan prinsip aswaja, pembahasan sampai pada sikap moderat aswaja terhadap golongan lain dan sikap aswaja terhadap hal baru. Sikap moderat aswaja kepada golongan lain bermakna tidak terdapatnya konsep mengkafirkan golongan lain atau menghalalkan darah dan harta benda mereka. Kemudian mengenai hal baru aswaja bersikap mengambil jika hal baru itu lebih baik daripada yang lama atau bisa diartikan aswaja tidak kaku dengan tetap memertahankan kebenarannya. Sikap tersebut sesuai dengan kalimat dalam kitab salah satu ulama’ aswaja, berikut kalimatnya : “almuhaafadhotu ‘alaa qadiimish shaalih wal akhazu bil jadiidil ashlah”.
Pembahasan mengenai materi inti pada kajian aswaja kedua ini telah selesai dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi tanya jawab terdapat tiga pertanyaan yang alhamdulillah ketiganya berkaitan dengan materi inti yang sebelumnya dibahas. Adapun pertanyaannya adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana jika ada yang bersikap mencampur adukkan empat madzhab ?
Mengingatkan jika itu merupakan konteks ibadah yang sepaket seperti wudlu dan shalat karena itu merupakan kemungkaran.
2. Mengingat banyaknya kitab yang sudah terdapat pemangkasan atau penghilangan bagian tertentu, apakah ada kitab yang bisa dijadikan rujukan ?
Untuk saat ini masih belum ada, tapi ada percetakan yang memakai file lama jadi kitab yang masih asli bisa didapatkan di percetakan yang memakai file lama namun kelemahannya sudah terdapat bagian yang kurang jelas untuk itu perlu adanya guru dalam memahami kitab tersebut agar tidak terjadi salah pemaknaan.
3. Bagaimana cara memecahkan masalah yang belum jelas atau terdapat perbedaan antara kitab satu dengan kitab yang lain ?
Semua permasalahan sudah ada cara penyelesaiannya tersendiri sesuai dengan madzhab masing-masing seperti contoh jika mengikuti Imam Syafi’i (Syafi’iyah) maka alur penyelesaiannya terdapat dalam kitab i’anatut tholibin Jadi tidak bisa diperdebatkan atau dipertemukan jalan tengahnya.
Demikianlah kajian aswaja yang kedua, semoga dengan apa yang telah kita peroleh dapat kita amalkan supaya kita menjadi insan yang senantiasa tegak lurus dengan Sang Kuasa dan semoga ketegak lurusan kita menjadikan pilar-pilar aswaja tetap terjaga. Aamiin aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin.