Memelajari Muharram Untuk Menemukan Momentum Keberkahan

Memelajari Muharram Untuk Menemukan Momentum Keberkahan
Senin(18/09), pesma al-Iqbal dan pesmi al-Inayah melaksanakan kegiatan keaswajahan yang ketiga dan karena hari kamis merupakan awal muharram sekaligus awal tahun baru hijriyah maka tema kajian ketiga ini khusus untuk mengenal bulan Muharram. Pada kesempatan ini bulann Muharram diulas mulai dari arti kata muharram kemudian peristiwa apa saja yang terjadi pada bulan Muharram, dan amaliyah-amaliyah selama bulan Muharram serta tradisi-tradisi untuk menyambut kedatangan bulan Muharram.
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) dan berasal dari kata harrama-yuharrimu-tahriiman-muharrimun-wamuharramun yang berarti sesuatu yang dihormati atau yang terhormat dan yang diharamkan (dari hal-hal yang tidak baik). Dalam sejarahnya, pada bulan Muharram umat muslim diharamkan Allah untuk berperang. Sedangkan dalam kepercayaan orang Jawa bulan Muharram merupakan bulan yang haram untuk melakukan hal-hal kebaikan seperti menikah, tasyakuran, dan bentuk hajatan lainnya karena akan menimbulkan kesialan. Terkait dengan kepercayaan tersebut, ustadz Nur Hadi memberi saran dengan bijaksana yakni apabila engkau memercayai hal tersebut maka jangan melakukan hajatan dan apabila engkau tidak memercayai hal tersebut maka bolehlah melakukan hajatan.
Kemudian untuk rangkaian peristiwa-peristiwa dalam bulan Muharram adalah sebagai berikut :
1. Rasulullah menikahi Sofiyah binti Huyay bin Akhtab pada bulan Muharran tahun ke 7 hijriyah (Sunan nasa’i hadits 3380, sohih muslilm 2/1043,fathul bari 7/469.).
2. Sayidina Husain dibunuh pada hari Jum’at bertepatan dengan hari asyura (tgl 10) bulan Muharram tahun 61 H (Bidayah wa nihayah 8/160).
3. Sayidah Mariyah al-Qibtiyah meninggal pada bulan Muharram tahun ke 15 H (Bidayah wa nihayah 5/326).
4. Ibnu Umar menikahi Sofiyah binti Abi Ubaidah (Tarikh at thobari 2/475).

Setelah mengiformasikan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan Muharram, ustadz Nur Hadi melanjutkan kajiannya dengan menjelaskan amaliyah-amaliyah yang seyogyanya dilakukan pada bulan Muharram. Penjelasan amaliyah-amaliyah ini dimaksudkan untuk menemukan momentum keberkahan agar dapat memeroleh ridlo Allah. Adapun amaliyah-amaliyahnya adalah sebagai berikut :
1. Memperbanyak puasa terutama pada hari Asyura’
2. Mengusap kepala anak yatim. Mengusap kepala anak yatim memiliki dua arti yakni :
a. Mengusap dalam artian secara bahasa (mengelus-elus; membelai)
b. Mengusap dalam artian secara lebih luas (berkasih sayang)
3. Memberikan kegembiraan pada keluarga dapat berupa pemberian kabar yang menggembirakan atau pemberian hadiah.

Setelah siap dengan amaliyah-amaliyah yang telah dijelaskan, para santri diajak untuk mengenali tradisi yang ada di bulan Muharram. Salah satu tradisi yang mengerikan dan seharusnya tidak dilakukan adalah tradisi karbala. Tradisi karbala merupakan tradisi yang berisi ungkapan bela sungkawa atas wafatnya Sayyidina Husain. Namun dalam pengungkapannya terdapat aksi-aksi yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti diri sendiri seperti menampari pipi. Karena terdapat unsur menyakiti diri sendiri, ulama’ aswaja melarang tradisi karbala dan memasukkannya kedalam bid’ah madzmumah.

Demikianlah kajian aswaja yang ketiga, semoga dengan pengetahuan kemuharraman yang telah disampaikan dapat diamalkan dan mampu menjadi bekal untuk menemukan momentum keberkahan dalam bulan Muharram yang akan datang. Aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin. #bismillah