Kembali Mengenal Aswaja Untuk Semakin Memantapkan Hati Dalam Mengamalkannya

Kembali Mengenal Aswaja Untuk Semakin Memantapkan Hati Dalam Mengamalkannya
Alhamdulillah pada Senin(04/09) Pesantren Mahasiswa al-Iqbal dan Pesantren Mahasiswa al-Inayah dapat mulai melaksanakan kajian aswaja untuk pertama kali. Kajian aswaja ini dipimpin oleh ustadz dari Aswaja Center Surabaya. Kajian tersebut dimulai tepat pukul delapan malam dan berisi pengenalan kembali tentang sejarah aswaja, arti kata aswaja, dan siapa aswaja sebenarnya kemudian berkembang ke muamalah-muamalah menurut ulama’ aswaja.
Sejarah singkat aswajah yang dijelaskan oleh ustadz Nur Hadi dalam kajian aswajah tadi malam berisi tentang awal munculnya istilah aswaja dan kemudian ke arah masa dimana aswaja semakin dikenal. Dijelaskan bahwa aswaja berasal dari masa kekhalifaan Harun Ar-Rasyid dan terus mengalami perkembangan sampai saat ini. Ulama yang menjadi rujukan utama keaswajaan adalah Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi karena dua ulama’ itulah yang menjadi pelopor aswajah.
Aswaja berasal dari tiga kata yakni ahlun, as-sunnah, dan al-jamaah. Tiga kata tersebut memiliki arti yang berbeda. Ahlun memiliki arti keluarga, pengikut, dan penduduk, kemudian as-sunnah berarti jejak atau langkah nabi dan al-jamaah berarti perkumpulan atau kelompok. Jadi aswaja secara bahasa dapat diartikan sebagai kelompok pengikut setia nabi dan sahabatnya.
Tidak semua orang yang beragama islam dapat dikatakan sebagai aswajah karena ada yang memiliki sebutan sendiri misal syiah menyebut dirinya ahlu bait, khawarij menyebut dirinya al-Syurat, dan mu’tazilah menyebut dirinya ahlul adl wat tauhid.
Kemudian pembahasan keaswajahan berkembang ke rana muamalah-muamalah terutama jual beli. Hal ini berasal dari pertanyaan-pertanyaan para santri yang ragu dan ingin memeroleh landasan yang sesuai dengan aswajah. Namun sebelum berkembang ke arah muamalah juga sempat ada santri yang bertanya tentang apa hukum berganti madzhab dalam urusan fiqih dan ada juga yang bertanya tentang bagaimana jika ada seseorang yang tidak bermadzhab dan hanya berpegang teguh pada al-Qur’an dan hadits. Jawaban untuk keduanya adalah boleh, untuk pertanyaan pertama adalah boleh jika dalam satu paket, contoh satu paket adalah wudlu dan shalat, dan untuk pertanyaan kedua boleh jika dengan guru yang sanad keilmuannya nyambung sampai ke Rasulullah SAW. Adapun pertanyaan seputar muamalah adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana hukum jual beli tanpa akad menurut madzhab Syafi’i ?
Hukumnya boleh karena ada pendapat yang shahih tentang hal itu, namun pendapat yang ashah (paling shahih) adalah tidak diperbolehkan. Tapi dalam kenyataan kehidupan masa sekarang sangat sulit untuk mengamalkan hukum yang ashah maka ikut hukum yang shahih tidak masalah atau sudah lolos jika dipertanggung jawabkan di akhirat.
2. Adakah aturan mengenai prosentase keuntungan bagi penjual dalam menjual barang dagangannya? jika ada, berapa?
Tidak ada aturan mengenai masalah tersebut, prosentase keuntungannya terserah penjual karena sejatinya berjualan memang untuk memeroleh keuntungan asalkan tidak ada pihak yang dirugikan (pembeli) dan tidak ada batasan dari ulul ‘amri dalam negara tempat jual beli.
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan ustadz Nur Hadi melanjutkan kajian dengan menceritakan tentang temannya yang sukses memeroleh keberkahan ilmu meskipun saat pengajian sering tertidur, hal itu diperoleh dengan keta’dhiman dan ketawadhu’annya kepada seorang guru. Dari cerita tersebut dapat diperoleh pelajaran bahwa modal utama dalam menuntut ilmu adalah akhlaq yang baik kepada guru dan hal ini relevan dengan apa yang disampaikan Bapak Novianto pada kajian-kajian sebelumnya.
Semoga dengan pelajaran yang kita dapatkan terutama mengenai keaswajahan semakin memantapkan kita untuk terus mengamalkannya dan menjadi washilah kita untuk dapat menggapai ridhoNya serta menjadikan kita insan yang benar-benar ahsanu taqwim untuk mengemban tugas sebagai khalifatullah. Aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin.
#bismillah